Selasa, 28 Juni 2016

Bukalah Mata Kita

Assalamualaikum teman temanku semua. Semoga saat kalian membaca tulisan ini sekarang, kehidupan kalian masih baik-baik saja, masih dalam lindungan Allah, tuhan kita yang maha penyayang. Aku baru aja pulang dari ujian dan beberapa hari ke depan masih harus ngikutin ujian lagi. Udah kuliah gini, ujiannya jadi makin banyak. Awalnya sempet sedih, karena ... ya, siapa sih yang bersedia gagal. Kita semua pasti ingin selalu lulus.

Kalian semua juga, ya ampun percaya deh, aku bukan sok tau, tapi kalian pasti punya masalah masing-masing yang mungkin enggak semua orang bisa ngerti. Dan terkadang kita ngerasa kalo .... cuma masalah kita yang paling berat daripada yang pernah dialami oleh orang-orang di sekeliling kita. Am I correct?


Tapi, kenyataannya enggak. Kita semua selalu punya titik jenuh yang merepotkan untuk kita bahas lewat curhatan kosong pada teman kita, yang pada akhirnya cuma bisa ngasih saran "Sabar ya. Hidup emang keras."

Baru dua detik yang lalu aku mulai sadar, terkadang kita terlalu sibuk membersihkan debu-debu di jendela kamar kita hanya untuk melihat cahaya matahari pagi, tanpa menyadari kalau jauh di luar sana ... masih ada orang-orang yang bahkan jendela saja enggak punya!



Foto itu enggak sengaja muncul waktu aku lagi iseng browsing, dan ternyata itu adalah hasil jepretan seorang fotografer yang memotret seorang anak kecil asal suriah. Foto itu sebenernya udah lama banget diambil. Kira-kira setahun yang lalu.

Kalo di sini kan, anak kecil kalo disodorin lensa kamera pasti langsung selfie. Kalau di sana, mungkin lensa kamera keliatannya item gelap gitu ya jadi mungkin mirip senapan. Mereka langsung pasang posisi menyerah dengan tangan diangkat ke atas. Kan aku ngeliatnya kasihan .... masih kecil tapi udah ketakutan sampe mikir yang bukan-bukan. Atau jangan-jangan mereka pernah ngeliat senapan betulan yang akhirnya dipake buat nembak keluarga mereka .... ya allah ....

Lihat kan, masih banyak banget yang punya masalah dan cobaan melebihi ujian UTS, UAS, yang katanya sih menentukan kenaikan tingkat. Beratus-ratus kali lipat lebih berat dan mematikan. Kita doakan saja ya, jangan lupa. Kita ini bersaudara loh semuanya, saudara seiman. Kalian pasti sayang kan sama anak-anak kecil yang enggak berdosa tapi ternyata punya masalah lebih berat dari dugaan kita. Aku cuma kepikiran tentang mereka hari ini setelah liat foto itu.

Semoga Allah selalu melindungi teman-teman dan keluarga.

Salam,
Tiwi.

Sabtu, 26 Maret 2016

T : Aku sebel banget, tadi sopirnya enggak turunin aku di rest area. Padahal aku pengen ke kamar mandi dulu.

I : Kamu udah bilang ke sopirnya?

T : Kirain di antara kita ada ikatan batin, makanya aku diem aja.

I : *pura-pura mati*